Tuesday, 20 November 2018

Wisata Literasi

                       Wisata Literasi Dunia

Wisata Literasi berarti menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis. Membaca dapat menggunakan berbagai media, dapat juga pergi ke suatu tempat untuk mencari informasi lebih.
Di  dunia ini, ada negara yang dijuluki sebagai negara literasi, yaitu Finlandia. Negara Finlandia memiliki 39% dari populasinya yang berpendidikan tinggi. Julukan negara literasi bukan hanya berlaku untuk rakyatnya, tetapi juga untuk tempat wisatanya. Beberapa tempat wisata di Finlandia dapat mengedukasi  bagi siapa saja yang mengunjunginya.
Beberapa contoh tempat wisata literasi di Finlandia :
1. Kepulauan Aland, yang merupakan kepulauan otonom, yang berada di perbatasan antara Finlandia dan Swedia. Disini terdapat Museum kapal Pmmern, museum Bahari, serta Museum Maritim. Museum-museum yang ada di kepulauan Aland ini menjadi tujuan utama bagi wisatawan literasi.

www.wisataku.id/destinasi-wisata/negara-literasi-dan-5-tempat-wisata-yang-wajib-kamu-kunjungi/













2.Helsinki, yang merupakan ibukota dari Negara Finlandia. Di sini terdapat Museum Kota Helsinki, Museum Nasional Finlandia, dan Galeri Seni Finlandia. Di sini juga akan disuguhkan pameran seni klasik maupun seni modern sehingga wisatawan mendapatkan banyak pengetahuan.



www.wisataku.id/destinasi-wisata/negara-literasi-dan-5-tempat-wisata-yang-wajib-kamu-kunjungi/





3. Northern Lights, yang merupakan tempat wisata panorama alam di waktu tertentu, karena yang menjadi objek wisatanya hanya muncul dari bulan September sampai dengan bulan Maret. Objeknya merupakan cahaya yang langka, tidak di semua negara mempunyai cahaya ini. Sehingga banyak wisatawan literasi yang mengunjungi lokasi ini untuk menikmati pemandangan serta mencari informasi tentang fenomena ini.


www.wisataku.id/destinasi-wisata/negara-literasi-dan-5-tempat-wisata-yang-wajib-kamu-kunjungi/










4. Oulu, wisata yang terletak di Teluk Bothnia ini ramai ketika musim semi karena banyak acara olahraga yang sangat menarik untuk disaksikan. Bagi wisatawan literasi acara ini sangat cocok untuk mendapatkan informasi lebih tentang olahraga.

www.wisataku.id/destinasi-wisata/negara-literasi-dan-5-tempat-wisata-yang-wajib-kamu-kunjungi/







Berbeda dengan negara Finlandia yang mendapat julukan negara literasi, di negara Indonesia masyarakatnya kurang memiliki minat dalam kegiatan literasi, hal ini disebabkan oleh beberapa factor. Pertama, tidak ada kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini. Kedua, akses ke fasilitas Pendidikan belum merata dan minimnya kualitas sarana Pendidikan. Ketiga, kurangnya produksi buku di Indonesia. Terakhir, tempat wisata literasi yang kurang  membuat masyarakat tidak mendapatkan informasi tambahan.
Kemampuan membaca, berhitung dan pengetahuan sains anak-anak Indonesia berada di bawah Singapura, Vietnam, Malaysia dan Thailand berdasarkan hasil tes PISA (The Programme for International Student Assessment) yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2016.
Sementara 70% orang dewasa di Jakarta hanya memiliki kemampuan memahami informasi dari tulisan pendek, tapi kesulitan untuk memahami informasi dari tulisan yang lebih panjang dan kompleks. Dan 86% orang dewasa di Jakarta hanya dapat menyelesaikan persoalan aritmetika yang membutuhkan satu langkah, tapi kesulitan menyelesaikan perhitungan yang membutuhkan beberapa langkah.
Data ini disimpulkan dari hasil penilaian PIAAC (The Programme for the International Assessment of Adult Competencies), tes kompetensi sukarela untuk orang dewasa yang berusia 16 tahun ke atas.
Rendahnya literasi merupakan masalah mendasar yang memiliki dampak sangat luas bagi kemajuan bangsa. Literasi rendah berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas bangsa. Ini berujung pada rendahnya pertumbuhan dan akhirnya berdampak terhadap rendahnya tingkat kesejahteraan yang ditandai oleh rendahnya pendapatan per kapita.
Salah satu hal yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah rendahnya literasi adalah membangun dan meningkatkan infrastruktur pendidikan terutama penyediaan listrik, perpustakaan, lab komputer dan akses terhadap internet serta peningkatan infrastruktur ICT yang saat ini tertinggal di ASEAN.
Memasukkan kembali buku bacaan wajib ke dalam kurikulum. Untuk menjamin ketersediaan buku bacaan bermutu, maka fungsi penerbit milik negara Balai Pustaka perlu dikembalikan ke posisi sebelumnya sebagai penerbit dan penyedia buku bacaan bermutu bagi sekolah-sekolah.
Berdasarkan laporan UNESCO yang berjudul “The Social and Economic Impact of Illiteracy” yang dirilis pada tahun 2010, tingkat literasi rendah mengakibatkan kehilangan atau penurunan produktivitas, tingginya beban biaya kesehatan, kehilangan proses pendidikan baik pada tingkat individu maupun pada tingkat sosial dan terbatasnya hak advokasi akibat rendahnya partisipasi sosial dan politik.
Dampak antara literasi rendah juga muncul dalam persoalan kesehatan masyarakat, karena masyarakat dengan literasi rendah juga umumnya memiliki kesadaran rendah akan kebersihan makanan dan gizi buruk dan memiliki perilaku seksual berisiko tinggi. Akibatnya, prevalensi penyakit seksual, kehamilan, aborsi, kelahiran, kematian tinggi.
Literasi rendah juga berdampak pada tingginya angka putus sekolah dan pengangguran yang berdampak pada rendahnya kepercayaan diri. Orang dengan tingkat literasi rendah sulit menjadi mandiri atau berdaya, dan tergantung secara ekonomi pada pada keluarga, kerabat, dan negara.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengembangkan literasi masyarakat dalam memahami teks adalah melalui wisata literasi berbasis media sosial. Kita tahu bahwa siswa kita saat ini hidup dalam era digital teknologi tinggi. Masyarakat lebih banyak berintegrasi dan bersosialisasi melalui media sosial dengan perangkat digital yang mereka punya, antara lain : e-mail, blog, facebook, twitter, path, instagram, dan lain-lain. Dalam media sosial tersebut mereka bebas berekspresi mencurahkan pemikiran mereka yang mereka tuangkan dalam bentuk tulisan dengan harapan apa yang mereka buat bisa dibaca oleh orang lain sehingga orang lain tersebut memahami apa yang menjadi buah fikirannya.
Interaksi melalui media sosial yang dilakukan oleh masyarakat saat ini, terkadang tidak sesuai dengan literasi yang diharapkan bahkan dirasa berlebihan dan juga bisa menyebabkan semacam tindak kriminal dalam bentuk kekerasan verbal melalui tulisan yang mereka buat. Hal ini lah yang hendaknya menjadi perhatian semua pihak.
Wisata literasi siswa berbasis media sosial adalah hal yang sangat positif, dimana semua orang dituntut harus “up to date” dengan dunia kekinian  dengan cara juga bergabung dalam media sosial tersebut.
Sebagai contoh, apabila seorang guru ingin mengajak siswa memahami teks, maka guru dan siswa tidak perlu saling bertemu secara tatap muka langsung didalam kelas sesungguhnya, tetapi guru cukup meng-upload teks yang akan dibahas ke media sosial seperti facebook, tweeter, blog dan lain-lain. Kemudian siswa bisa membaca teks tersebut kapan saja dan dimana saja, selanjutnya siswa dan guru bisa berinteraksi secara on line melalui media sosial tersebut guna membahas teks yang sudah dibaca. Melalui hal ini, siswa secara psikologi merasa lebih nyaman senyaman mereka berintegrasi dengan teman-temannya yang lain dalam media sosial karena mereka tidak terganggu oleh keributan kelas ketika mereka bertanya, mereka bisa lebih percaya diri dan tidak merasa rendah diri ketika mereka bertanya melalui media sosial karena adanya ruang privacy bagi mereka dengan gurunya untuk bertanya dari pada bertanya didalam kelas yang teman-temannya nanti ditakutkan akan merendahkan dan mengejek mereka ketika bertanya.

Selanjutnya melalui wisata literasi berbasis media sosial ini tentunya menjadikan guru lebih leluasa untuk berkreativitas memciptakan serta mengembangkan teks yang mudah dipahami oleh siswanya. Guru menjadi lebih bisa berinovasi dengan menciptakan serta menampilkan teks yang menarik dengan menyertakan audio-visual dan penggunaan narasi, teks, suara dan gambar yang sesuai literasi. Melalui hal ini, diharapkan bisa menumbuhkan minat siswa terhadap literasi terutama minat baca dan menulis dan khususnya pemahaman teks.

Melalui wisata literasi berbasis media sosial, siswa bebas untuk membaca kapan saja dan dimana saja tanpa harus direpotkan dengan masalah urusan waktu dan tempat. Mereka juga akan lebih bersemangat untuk membaca karena teks yang ditampilkan tidak hanya sekedar narasi tulisan semata tetapi dilengkapi dengan sound (bunyi) dalam bentuk background music (musik pengiring) yang sesuai dengan kesenangan mereka, adanya visual yang menarik serta penataan bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka.




No comments:

Post a Comment