Jumlah perjalanan wisatawan
mancanegara (wisman) di Indonesia pada tahun 2004 mengalami pertumbuhan sebesar
19,1% dibanding tahun 2003.Sedangkan penerimaan devisa mencapai US$ 4,798 miliar,
meningkat 18,8%dari penerimaan tahun 2003 sebesar US$ 4,037 miliar. Berdasarkan
catatansementara dari Biro Pusat Statistik, jumlah wismanke Indonesia pada
tahun2005 berjumlah 5,007 juta atau mengalami penurunan sebesar 5,90%.Penerimaan
devisa diperkirakan mencapai US$ 4,526 miliar atau mengalamipenurunan sebesar
5,66% dibanding tahun 2004. Namun demikian angkaperjalanan wisata di dalam
negeri (pariwisata nusantara) tetap menunjukan pertumbuhan yang berarti. Di
tahun 2005 diperkirakan terjadi 206,8 juta perjalanan (trips) dengan pelaku
sebanyak 109,9 juta orang dan menghasilkanpengeluaran sebesar Rp 86,6 Triliun.
Keseluruhan angka tersebut di atas,
mencerminkan kemampuan pariwisata dalam meningkatkan pendapatan negara, baik
dalam bentuk devisa asing maupun perputaran uang di dalam negeri.
Permasalahannya, apakah penerimaan devisa dan perputaran uang tersebut mampu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat? Oleh sebab itu makalah ini disusun untuk
memberikan konsep berpikir (paradigma) baru dalam upaya pengembangan
kepariwisataan di Indonesia. Selain itu makalah ini juga mencoba menjelaskan
kecenderungan (trend) Global yang terjadi dalam perjalanan pariwisata
internasional serta dampaknya terhadap perkembangan kepariwisataanIndonesia di
era otonomi daerah pada saat ini.
PARADIGMA
BARU PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
Pariwisata seringkali dipersepsikan
sebagai mesin ekonomi penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara
tidak terkecuali di Indonesia. Namun demikian pada prinsipnya pariwisata
memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara.
Pembangunan kepariwisataan pada
dasarnya ditujukan untuk :
A.
Persatuan dan Kesatuan Bangsa
B. Penghapusan Kemiskinan (Poverty
Alleviation)
C. Pembangunan Berkesinambungan
(Sustainable Development)
D. Pelestarian Budaya (Culture
Preservation)
E.
Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia
F.
Peningkatan Ekonomi dan Industri
G.
Pengembangan Teknologi
KONDISI KEPARIWISATAAN NASIONAL DI ERA OTONOMI DAERAH
Pada masa lalu pembangunan ekonomi
lebih diorientasikan pada kawasan Indonesia bagian barat. Hal ini terlihat
lebih berkembangnya pembangunan sarana dan prasarana di kawasan barat
Indonesia, dibandingkan dengan yang terdapat di kawasan timur Indonesia. Hal
ini juga terlihat dari pembangunan di sektor pariwisata, dimana kawasan Jawa-Bali
menjadi kawasan konsentrasi utama pembangunan kepariwisataan. Sementara dilihat
dari kecenderungan perubahan pasar global, yang lebih mengutamakan sumber daya
alami sebagai destinasi wisata, maka potensi sumber dayaalam di kawasan timur
Indonesia lebih besar di bandingkan kawasan barat. Kualitas sumber daya alam
yang dapat dijadikan daya tarik wisata unggulan di kawasan timur Indonesia,
jauh lebih baik dan memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan. Namun
demikian tidak secara otomatis kawasan timur Indonesia dapat dikembangkan
menjadi kawasan unggulan, karena adanya beberapa masalah mendasar, seperti
kelemahan infrastruktur, sumber daya manusia, dan sebagainya.
Beberapa dampak yang ditimbulkan
dari ketidakseimbangan pembangunan di sektor pariwisata adalah:
a. Pembangunan pariwisata yang tidak
merata, khususnya di kawasan timur Indonesia, sehingga tingkat pertumbuhan
ekonomi kawasan Indonesia timur dari sektor pariwisata masih rendah.
b. Indonesia hanya bertumpu pada
satu pintu gerbang utama, yaitu Bali.
c. Lemahnya perencanaan pariwisata
di kawasan timur Indonesia dan kurang termanfaatkannya potensi pariwisata di
kawasan tersebut secara optimal.
d. Rendahnya fasilitas penunjang
pariwisata yang terbangun.
e. Terbatasnya sarana transportasi,
termasuk hubungan jalur transportasi yang terbatas.
PEMBANGUNAN
KEPARIWISATAAN DAERAH DI ERA OTONOMI
Potensi kekayaan budaya juga patut
diperhitungkan dalam mengembangkan suatu daerah sebagai destinasi utama.
Keanekaragaman budaya dan kesenian telah dikenal masyarakat dunia, termasuk
keterbukaan dan keramahan masyarakat, serta kekayaan kuliner dipercaya memberi
andil besar bagi tumbuhnya minat masyarakat Indonesia untuk datang berkunjung
ke suatu daerah. Selaindari potensi alam dan budaya, keberadaan infrastruktur
aksesibilitas udara dan laut yang memadai mampu menjadi pendukung pengembangan
daerah sebagai destinasi wisata Indonesia.Sarana dan prasarana kepariwisataan
juga perlu mengalami peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan yang memadai.
Penyiapan sumberdaya manusia yang
memiliki kompetensi tinggi di bidang pelayanan jasa kepariwisataan juga menjadi
hal yang perlu dilakukan. Kemampuan masyarakat dalam berinteraksidan
bersosialisasi perlu dilengkapi pula dengan kemampuan teknis, operasional dan
manajerial dalam penyediaan barang dan jasa kepariwisataan. Stigma bahwa
pekerja di bidang pariwisata merupakanpelayan harus mulai diubah menjadi
pekerja profesional yang berkelas dunia. Kemampuan masyarakat dalam
mengembangkan kompetensi mereka di bidang kepariwisataan dipercaya akan mampu
meningkatkan kualitas pelayanan serta pengalaman berwisata
bagi wisman maupun wisnus Berdasarkan
berbagai kondisi tersebut, pengembangan pariwisata di bebagai daerah, khususnya
di wilayah timur Indonesia, harus difokuskan pada pengembangan pariwisata
berbasis bahari dengan dukungan budaya yang kaya.
Fokus pembangunan kepariwisataan ini
akan mampu memposisikan kawasan Indonesia Timur sebagai destinasi utama
pariwisataIndonesia yang berbeda dengan daerahlainnya seperti Bali dengan
budaya dan alamnya (pantai) maupun DI Yogyakarta dengan budayanya. Fokus
pembangunan kepariwisataan ini perlu dibicarakan dan menjadi komitmen seluruh
stakeholders dalam pembangunan kepariwisataan di daerah.
Bulan
2002 2003 2004 2005
Januari 372.678 340.972 426.465 405.609
Februari 392.683 355.345 379.614
372.343
Maret 49.151
353.877 410.128 409.122
April 409.802 249.491
383.693 379.272
Mei 444.173 268.959 434.792 410.133
Juni 454.029 371.642 477.017 439.441
Juli 486.749 431.512
488.096 471.412
Agustus 503.447
441.144 519.615 462.291
September 461.135 411.791 466.5 453.876
Oktober 382.00 4 424.965 449.865 332.46
November 318.442 372.261 392.821
387.6
Desember 359.107 445.062 492.559 465.178
Total: 5033.4 4467.021 5321.165 4988.796
saran
Pembangunan kepariwisataan Indonesia
dihadapkan pada berbagai masalah, tantangan dan hambatan baik yang berskala
global maupun nasional. Selain itu diperlukan pula perubahan paradigma dalam
memandang pariwisata dalam konteks pembangunan nasional. Pariwisata tidak
lagisemata dipandang sebagai alat peningkatan pendapatan nasional, namun
memiliki spektrum yang lebih luas dan mendasar. Oleh karenanya pembangunan
kepariwisataan Indonesia memerlukan fokus yang lebih tajam serta mampu
memposisikan destinasi pariwisatanya sesuai potensi alam, budaya dan masyarakat
yang terdapatdi masing-masing daerah. Dalam konteks ini, setiap daerah harus
dapat memposisikan dirinya dalam kerangka pembangunan kepariwisataan nasional
dengan diimbangi dengan perencanaan yang matang dan upaya-upaya peningkatan
kompetensi SDM yang berkualitas dunia. Pada lampiran disajikan pula berbagai
indikator ekonomi
kepariwisataan Indonesia yang dapat
dipergunakan dalam mengembangkan kepariwisataan di berbagai daerah khususnya
dalam konteks pengembangan wisata bahari